Dia akan menyembunyikan kesedihannya. Tidak
akan kita pahami sampai kita menjadi orang tua.
Dan kamu menjadi seorang ibu dari anak-anak
yang akan kamu pertahankan nyawanya. Menjadi
seseorang yang mungkin akan menangis dan
kamu terus berbohong bahwa tangismu adalah
tangis kebahagiaan.
Air mata yang melepas kepergian kita. Menuntut
ilmu ke negeri seberang atau melepaskan
kepergian kita menjadi miliki orang lain. Melepas
kepergian kita di hari pernikahan. Air matanya
itu tanda perasaan yang mungkin ia sendiri sulit
untuk membahasakan. Dan kita diminta tak usah
menghiraukan.
Mungkin suatu saat kita akan memahami bahwa
Bunda adalah manusia yang paling rapi
menyimpan rasa cintanya. Kadang perasaan itu
menjelma menjadi kalimat-kalimat menyakitkan
karena ia tidak tahu kata apa yang paling tepat
untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Kadang
perasaan itu menjadi tindakan yang tidak bisa
kita mengerti, terlalu cemas atau terlalu
overprotective. Mungkin, hanya itu cara yang ia
tahu untuk mengungkapkan betapa sayangnya ia
kepada kita.
Tidak ada satu sekolah pun yang mengajarkan
bagaimana cara menjadi ibunda yang baik, tidak
ada yang mengajarkan bagaimana mengelola air
mata itu nantinya. Tidak ada pelajaran resmi
untuk mempersiapkan seorang menjadi ibunda
sedemikian rupa. Semuanya adalah proses alami
yang lahir dari sanubari. Naluri untuk mengasihi
anak-anak jauh lebih besar daripada dirinya
sendiri.
Sampai nanti pun mungkin kita akan sulit
percaya bahwa air mata kebahagiaan dan
kesedihan itu semakin sulit dimengerti. Karena
ibunda akan selalu berkata bahwa tetes air mata
itu adalah kebahagiaan dan kita akan selalu
diminta untuk tidak usah memedulikannya.
Sampai kelak, kita berada dalam posisi itu.
#cerpen #kurniawangunadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar