Sabtu, 21 Februari 2015

Mentari Pulang


Mentari duduk pada sebuah kursi bernomor ganjil di barisan kanan. Gerbong ini membawanya pulang ke tempatnya pulang di barat. Seperti pada setiap kepulangan, ada alasan yang menyebabkan. Bumi, laki-laki yang dulu ia pikir menyukainya ternyata hanya asumsi pikirannya.
Ini membuatnya sedih sejenak dan untuk mengembalikan pikirannya itu dia memilih pulang. Mentari tak hendak menghindar dari perasaan, ia ingin bertemu kembali pada alasan-alasan yang membuatnya pergi dari kampung halaman. 

Alasan pertama adalah masa depan, laki-laki memang bagian dari masa depannya. Tapi tidak ada jaminan bahwa Bumi adalah masa depannya.

Alasan kedua adalah impian, Mentari memiliki impian untuk membahagiakan ibunya, adiknya. Dan tentu saja membahagiakan ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Ini seperti sebuah impian yang klise, membahagiakan keluarga. Tapi alasan seperti ini menjadi titik picu untuk Mentari melakukan setiap hal dengan baik dan terbaik.

Mentari kira Bumi menyukainya, perasaan perempuan memang selalu banyak sangkanya. Ternyata Bumi dan Bulan kemudian menikah, itu tidak diperhitungkan kemungkinannya. Ya perasaan perempuan sering berkutat pada keinginannya kemudian menciptakan asumsi yang membenar-benarkan perasaannya. 

Paling tidak kepulangan ini membuat Mentari masih sadar, dia masih perempuan, perasaannya masih perempuan, dan hatinya masih perempuan.

"Laki-laki tak harus mengerti bagaimana perempuan, Laki-laki cukup diminta menerima keadaan perempuan". Ibundanya pernah mengatakan seperti itu kepadanya.

Kereta ini melaju cepat, secepat Mentari ingin meninggalkan perasaan-perasaan nya kepada Bumi yang sempat ia pelihara. Ia sendiri bingung, apa ia yang menanamnya atau Bumi yang menanam dihatinya. Meski ia perempuan dan lebih memiliki perasaan, Mentari sendiri jarang bisa memahami perasaannya. Ah rumit sekali.

"Perempuan itu selalu seperti anak-anak,Mentari.Tidak ada yang tahu isi hatinya bahkan anak-anak oleh anak-anak itu sendiri, tapi anak-anak itu selalu jujur", Ibundanya mengatakan pula di lain hari.
Kata selalu jujur selalu terngiang, Mentari hanya perlu jujur pada dirinya sendiri tentang perasaannya. 

Bandung, 12 Maret 2013 Ditulis oleh Kurniawan Gunadi

1 komentar:

  1. selalu suka dengan goresan pena penulis yg satu ini, itulah kenapa sy suka posting tulisannya di blog ini...

    BalasHapus