Mentari Pulang
Mentari duduk pada sebuah kursi bernomor ganjil di barisan kanan.
Gerbong ini membawanya pulang ke tempatnya pulang di barat. Seperti pada
setiap kepulangan, ada alasan yang menyebabkan. Bumi, laki-laki yang
dulu ia pikir menyukainya ternyata hanya asumsi pikirannya.
Ini membuatnya sedih sejenak dan untuk mengembalikan pikirannya itu
dia memilih pulang. Mentari tak hendak menghindar dari perasaan, ia
ingin bertemu kembali pada alasan-alasan yang membuatnya pergi dari
kampung halaman.
Alasan pertama adalah masa depan, laki-laki memang bagian dari masa
depannya. Tapi tidak ada jaminan bahwa Bumi adalah masa depannya.
Alasan kedua adalah impian, Mentari memiliki impian untuk
membahagiakan ibunya, adiknya. Dan tentu saja membahagiakan ayahnya yang
sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Ini seperti sebuah impian yang
klise, membahagiakan keluarga. Tapi alasan seperti ini menjadi titik
picu untuk Mentari melakukan setiap hal dengan baik dan terbaik.
Mentari kira Bumi menyukainya, perasaan perempuan memang selalu
banyak sangkanya. Ternyata Bumi dan Bulan kemudian menikah, itu tidak
diperhitungkan kemungkinannya. Ya perasaan perempuan sering berkutat
pada keinginannya kemudian menciptakan asumsi yang membenar-benarkan
perasaannya.
Paling tidak kepulangan ini membuat Mentari masih sadar, dia masih
perempuan, perasaannya masih perempuan, dan hatinya masih perempuan.
"Laki-laki tak harus mengerti bagaimana perempuan, Laki-laki cukup diminta menerima keadaan perempuan". Ibundanya pernah mengatakan seperti itu kepadanya.
Kereta ini melaju cepat, secepat Mentari ingin meninggalkan
perasaan-perasaan nya kepada Bumi yang sempat ia pelihara. Ia sendiri
bingung, apa ia yang menanamnya atau Bumi yang menanam dihatinya. Meski
ia perempuan dan lebih memiliki perasaan, Mentari sendiri jarang bisa
memahami perasaannya. Ah rumit sekali.
"Perempuan itu selalu seperti anak-anak,Mentari.Tidak ada yang
tahu isi hatinya bahkan anak-anak oleh anak-anak itu sendiri, tapi
anak-anak itu selalu jujur", Ibundanya mengatakan pula di lain hari.
Kata selalu jujur selalu terngiang, Mentari hanya perlu jujur pada dirinya sendiri tentang perasaannya.
Bandung, 12 Maret 2013 Ditulis oleh Kurniawan Gunadi
selalu suka dengan goresan pena penulis yg satu ini, itulah kenapa sy suka posting tulisannya di blog ini...
BalasHapus