Minggu, 08 Maret 2015

Melupakan

#talkself

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan,
melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka
sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari
kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin
melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah
yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang
berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan
justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar,
ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri.
Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas
kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali
menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan,
malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika
terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram
terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari
kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu
peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri
sendiri: "Sy punya masa lalu seperti ini, pernah dekat
dengan orang menyakitkan itu, sy terima semua
kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega,
karena sy tahu, besok lusa sy bisa jadi lebih baik--dan
semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki
diri." Letakkan kenangan tsb dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan
tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan
itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru
menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin
kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan
kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh
hal2 baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling
mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi
setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang
tepat, besok lusa jika kita tdk semaput oleh racun tsb,
kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas
bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu
atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya.
Terima seluruh ingatan itu.
*Tere Liye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar