"Kalau kau ada pertanyaan. Maka kelak kau akan
menemukan seseorang yang memiliki jawabannya."
Ku katakan demikian pada Matahari. Kala Matahari
bertanya-tanya mengapa ia sendirian di atas sana.
Mengapa tidak ada matahari lain yang bersinar
bersamanya.
Ku katakan kepadanya lagi,
"Ada, tapi mungkin jauh. Bukankah ada kalanya
teman itu bukan yang sama-sama bersinar terang?
Bukankah kita diciptakan dengan lengkap dan
untuk menjadi lengkap, kita perlu yang lain. Apa
kau lihat di bumi sana ada bulan? Ia bersinar sebab
matahari. Ia menjadi lengkap. Bukan begitu?"
Matahari yang merasa kesepian. Tak ku sangka, ia
yang begitu kuat dengan sinarnya bisa merasa
kesepian. Tapi kesepian memang tidak memandang
kuat tidaknya seseorang, karena sepi bisa
menghampiri siapa saja.
"Aku tahu tidak baik berandai, tapi bagaimana bila
ada dua matahari di sini?", tanya Matahari.
"Mungkin bumi akan kehilangan malamnya, ia tidak
menjadi lengkap," kataku.
"Kenapa kamu mencari sesuatu yang tidak ada?
Sesuatu yang kamu ciptakan dari pikiranmu
sendiri? Sebuah khayalan padahal di sekitarmu
begitu banyak yang bahagia karena kamu bersinar
sedemikian terang?" aku bertanya lagi.
"Mungkin karena, aku kesepian. Benar-benar
berbahaya pikiran orang yang kesepian itu", ujar
Matahari.
(c)kurniawangunadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar