Sabtu, 18 April 2015

Biasanya

Biasanya, ceritanya hampir selalu begini. Kamu
suka sama seseorang yang mana orang itu suka
sama orang lain. Kamu mencari yang jauh
sementara ada orang di dekatmu yang diam-diam
mencarimu. Kamu menolak orang lain demi
seseorang yang ternyata juga menolakmu.

Biasanya, ceritanya hampir demikian. Kita
mengejar sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk
kita. Kita lupa mensyukuri nikmat-nikmat yang
kecil. Kita tidak peduli dengan sekitar, bahkan
tidak peduli dengan mereka yang peduli. Kita
berharap dipedulikan oleh seseorang yang lebih
peduli pada orang lain.

Biasanya, kita menyimpan segala hal untuk kita
sendiri. Tidak pernah diceritakan kepada orang
lain sampai pada sebuah kenyataan bahwa kita
terlambat untuk mengungkapkan.

Biasanya kita terlalu sibuk dengan pikiran kita
sendiri. Membuat dunia yang ideal dalam pikiran
berdasar asumsi sendiri. Membuat angan seolah
kenyataan, membuat harapan seolah berbalas.
Padahal tidak.

Biasanya kita menyadari pada satu titik, tapi
biasanya pula kita mengulangi hal yang sama lagi.

Begitu seterusnya berulang berkali-kali, sampai
pada titik nanti kita akan menyadari bahwa kita
telah melewatkan banyak hal baik, kita telah
membuang banyak kesempatan baik, kita telah
membuang orang-orang yang baik, kita telah
semakin tua, dan kita baru sadar bahwa kita
menjadi orang yang tidak hanya merugi, tapi
celaka.

Biasanya yang namanya penyesalan itu datang
terlambat. Tapi, kita merasa bahwa hidup kita
akan berjalan sesuai dengan perasaan kita.
Padahal tidak.

Rumah, 18 April 2015 | ©kurniawangunadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar