Rabu, 08 April 2015

Demi Mimpi

Setiap orang memiliki impian. Meski diam-diam
tidak diutarakan, ada saja hal-hal yang
memenuhi pikirannya. Tentang sesuatu yang
ingin dicapainya di masa-masa yang akan
datang. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu
dengan kejadian yang membuat saya paham
bahwa impian sekecil apapun membutuhkan
pengorbanan.

Kadang atau mungkin sering, impian kita
dipandang tidak berharga oleh orang lain.
Dicemooh oleh orang lain. Ditertawakan bahkan
diragukan. Sampai-sampai membuat kita sendiri
ragu terhadap impian yang kita miliki. Membuat
kita urung untuk mewujudkannya karena takut
ditertawakan atau dipandang aneh. Impian yang
hidup dalam diri kita perlahan-lahan kita
abaikan.

Saya paham, bahwa untuk mewujudkan impian
itu ada harga yang harus dibayar. Entah dengan
berlelah belajar, bekerja keras, kehilangan
relasi, kehilangan kepercayaan, ditertawakan.

Apapun itu. Ketika orang lain melihat sebelah
mata pada apa yang telah saya putuskan, saya
masih memiliki orang-orang yang mendukung
saya untuk mewujudkannya. Impian yang
mungkin tidak akan menjanjikan kelimpahan
materi (uang) dimana orang pada umumnya
begitu mengejarnya. Impian yang mungkin tidak
akan menjanjikan ketenaran ataupun nama
besar, atau posisi penting.

Impian itu, biar sekecil apapun, biar dianggap
sepele orang lain. Namanya tetap impian.
Mungkin, impian kita tidak seperti keinginan
orang tua atau pendapat masyarakat, tapi dia
tetap impian. Sesuatu yang akan terus hidup
bahkan mungkin sampai kita mati. Terngiang-
ngiang di hari tua nanti bila tidak pernah kita
wujudkan. Terpaksa menjalani sesuatu yang
bukan impian kita.

Sungguh, dimanapun kita. Pilihan untuk
mewujudkan impian hampir tidak pernah mudah.
Kita tidak seberuntung orang lain mungkin, yang
impiannya mendapat dukungan orang-orang
dekat. Bahkan impian kita mungkin akan
membuat kita jauh dari orang-orang. Hanya
sedikit saja dari mereka yang mau membersamai.

Hanya sedikit saja orang yang mau memahami.
Pilihan mewujudkan impian bukanlah pilihan yang
mudah. Karena kita harus siap berkorban banyak
hal. Tapi, ada satu hal yang mungkin tidak akan
pernah terbeli dari apapun, kedamaian hati.

Rumah, 31 Mei 2014 | ©kurniawangunadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar